<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia &#187; Artikel Bali</title>
	<atom:link href="http://id.ceis-swcu.asia/pskti/articles/bali/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://id.ceis-swcu.asia</link>
	<description>Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia Universitas Kristen Satya Wacana</description>
	<lastBuildDate>Sun, 10 Apr 2011 23:06:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kunci Utama Memutus Mata Rantai Penyakit Menular Seks</title>
		<link>http://id.ceis-swcu.asia/pskti-arsip/articles/bali/2009/07/kunci-utama-memutus-mata-rantai-penyakit-menular-seks/</link>
		<comments>http://id.ceis-swcu.asia/pskti-arsip/articles/bali/2009/07/kunci-utama-memutus-mata-rantai-penyakit-menular-seks/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 02:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.ceis-swcu.asia/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[<p>Oleh <a href="http://winarto.in/"><strong>WINARTO</strong></a></p>
<p>Bali, pulau dengan sejuta pesona, hingga banyak orang dari dalam maupun luar negeri ”tergoda” menikmati daya tariknya. Industri pariwisata berkembang, yang diikuti oleh usaha-usaha pengikut dan pendukungnya. Berbagai fasilitas dibangun dan dikembangkan untuk menyambut tamu-tamu wisatawan yang datang. Berbagai&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <a href="http://winarto.in/"><strong>WINARTO</strong></a></p>
<p>Bali, pulau dengan sejuta pesona, hingga banyak orang dari dalam maupun luar negeri ”tergoda” menikmati daya tariknya. Industri pariwisata berkembang, yang diikuti oleh usaha-usaha pengikut dan pendukungnya. Berbagai fasilitas dibangun dan dikembangkan untuk menyambut tamu-tamu wisatawan yang datang. Berbagai bidang pekerjaan pun tersedia di Pulau Dewata tersebut.</p>
<p>Meski demikian, kondisi tersebut pun membawa ”dampak buruk” bagi Bali. Industri prostitusi pun juga berkembang pesat di sana. Tentu, hal ini akan menjadi jalur yang akan menjadi media penularan dan penyebaran penyakit menular seks. Perilaku berganti-ganti pasangan disebut-sebut sebagai salah satu faktor penyebab penularan penyakit menular seks, selain ada faktor-faktor lain.</p>
<p>Penyakit menular seks atau dalam bahasa medis disebut sebagai STD (Sexually Transmitted Diseases) menjadi topik panas yang dibahas di masyarakat, terkhusus di Bali. Untuk di Bali, penularan penyakit menular seks menurut dr. Elly sangatlah cepat. Kasus-kasus yang terjadi selama ini penyakit tersebut ditularkan serta disebarkan melalui dunia prostitusi yang semakin luas, perilaku seks yang tidak aman dan sering berganti-ganti pasangan, arus keluar masuk penduduk yang tinggi dari dalam dan luar negeri dan praktik injeksi serta sterilisasi alat kedokteran yang belum memenuhi syarat seperti penggunaan jarum suntik bagi pecandu narkoba.</p>
<p>Masyarakat belum banyak yang paham tentang penyakit menular seks (PMS) ini, demikian dikatakan oleh dr. Elly menurut pengalamannya selama ini. Ia menyebutkan penyebab PMS yakni bakteri, virus, jamur, protozoa maupun ekstoparasit. Bakteri dapat menyebabkan penyakit kencing nanah dan sipilis (atau dikenal dengan raja singa). Virus menyebabkan penyakit HIV/AIDS, herpes genitalis, kutil kelamin dan hepititis B. Jamur dan protozoa mengakibatkan keputihan, ekstoparasit mengakibatkan gatal-gatal pada alat kelamin. Lebih lanjut, PMS yang disebabkan bakteri dan jamur dapat disembuhkan dengan antibiotik asal diketahui dan diobati sedini mungkin, sedangkan PMS karena virus sangat sulit diobati bahkan tidak dapat disembuhkan seperti HIV/AIDS.</p>
<p>Pengetahuan masyarakat yang masih minim akan apa itu PMS, bahaya yang ditimbulkan dan bagaimana memutus mata rantainya, disebut dr. Elly sebagai penyebab kasus ini akan tetap langgeng dan terus meluas, terutama yang ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman dan sering berganti-ganti pasangan. Oleh sebab itulah, dr. Elly menaruhkan perhatian khusus pada kampanye, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat mengenai PMS melalui Elly Medical Service-nya ataupun ikut dalam program-program sejenis bersama-sama dengan rekan-rekan sejawatnya.</p>
<p>Dari pengalaman dr. Elly dalam pencegahan kasus PMS di Bali, perhatiannya saat ini dicurahkan pada pendekatan pada elemen masyarakat yang melakukan seks aktif dan berperilaku ganti-ganti pasangan, para Pekerja Seks Komersil misalnya, dikarenakan mata rantai penyebaran PMS sangat berpotensi melalui mereka. Tidak hanya mengedukasi dan memberikan pemahaman mengenai PMS, dr. Elly juga melakukan kerjasama dengan beberapa pihak untuk melakukan kampanye penggunaan dan pembagian kondom bagi mereka. Program tersebut telah dijalankan pada tempat-tempat yang berisiko terjadinya transaksi seks seperti lokalisasi, warung remang-remang dan tempat-tempat lain yang diduga rentan.</p>
<p>Menurut pengakuan dari beberapa pasiennya, pengetahuan akan penyakit menular seksual masih minim, juga dalam hal penggunaan kondom sebagai upaya pencegahan. Oleh sebab itulah, perlu lebih digalakkan lagi kampanye dan edukasi ke masyarakat. Dalam edukasi tersebut, disarankan bagi para pekerja seks komersil untuk selalu teratur memeriksakan diri dan menganjurkan penggunaan kondom untuk mencegah penularan penyakit.</p>
<p><strong>Keprihatinan Pada Generasi Muda</strong><br />
Memutus mata rantai penyakit menular seksual tidak bisa dipisahkan dari generasi muda. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikan pesat ditunjang oleh rasa ingin tahu yang menggebu-gebu menjadikan kalangan generasi muda sebagai kelompok yang rentan terhadap penyebaran penyakit menular seks. Karena dorongan kedua hal tersebut, dapat menyebabkan terjadinya perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan, termasuk dalam seks bebas dan berganti-ganti pasangan.</p>
<p>Selain itu, generasi muda juga rawan dalam hal penggunaan narkoba. Dalam kaitannya dengan penyakit menular seks, pengguna narkoba dengan jarum suntik terutama, sangatlah mudah sebagai media penularan PMS. Hal tersebut dikarenakan biasanya pecandu narkoba menggunakan jarum suntik secara bergantian, padahal jarum suntik yang telah dipakai tersebut tidak aman dan tidak steril.</p>
<p>Arus migrasi baik wisatawan maupun tenaga kerja ke Bali, telah memengaruhi gaya hidup anak muda Bali. Sempat beberapa kali melihat 2 murid Sekolah Menengah Pertama berciuman bibir di pinggir jalan. Bahkan, dr. Elly pernah melihat adegan yang lebih panas dilakukan anak remaja di kolam renang. Sudah sejauh itu. Kalau di tempat umum mereka telah berbuat yang demikan,bukankah sangat mungkin mereka akan melakukan hal yang lebih? Beberapa waktu yang lalu pun, Bali digemparkan oleh video mesum yang dilakukan oleh anak muda yang juga marak di beberapa daerah di Indonesia.</p>
<p>Itu yang teridentifikasi, belum kasus-kasus yang belum terungkap, laksana gunung es. Untuk itulah dr. Elly terus berjuang untuk memberikan edukasi kepada generasi muda khususnya melalui gagasan pengenalan kurikulum reproduksi manusia, seksologi dan kontrasepsi di kalangan generasi muda. Meskipun masih sebatas gagasan, namun sejumlah kegiatan pengedukasian ke generasi muda pun telah dilakukan. Diharapkan, setelah memperoleh informasi seputaran reproduksi, seksologi dan kontrasepsi, kaum muda dapat berhati-hati dalam menjaga diri dan berperilaku sehat.<strong> </strong></p>
<p><strong>Proses Panjang</strong><br />
Menilik pada kegiatan-kegiatan edukasi yang dilakukan selama ini, dr. Elly mengakui bahwa butuh proses yang panjang dan dukungan dari segenap elemen pemerintah dan masyarakat. Para pekerja seks komersial, meskipun masih sangat kecil jumlahnya, yang dulu malu, takut untuk memeriksakan diri secara rutin dan tidak menggunakan kondom, telah mulai mengerti akan bahaya penyakit menular seks. Dikatakan dr. Elly, bahwa setelah diberi informasi mengenai hal tersebut, beberapa pekerja seks komersil menghubungi dr. Elly untuk sekedar berdiskusi, konsultasi ataupun memeriksakan diri.</p>
<p>Memutus mata rantai penularan penyakit menular seks itu perlu komitmen bersama. Komitmen untuk setia kepada pasangannya masing-masing, tidak berganti-ganti pasangan, menjauhi narkoba terutama narkoba suntik dan penting untuk selalu berhati-hati dalam pergaulan dan tindakan. Pernah ada satu kasus, secara tidak sengaja rekan sejawat dr. Elly terinfeksi virus HIV/AIDS. Jarum suntik yang digunakan untuk menyuntik pasiennya, secara tidak sengaja tertusuk. Ternyata, pasien tersebut mengidap HIV/AIDS. Akhirnya, teman dr. Elly ini pun tertular virus yang mematikan dan menjadi momok itu.</p>
<p>Janganlah ragu untuk memeriksakan diri, kalau memang telah terkena penyakit menular seks dapat segera dilakukan tindakan pengobatan. Kalau pun terpaksa harus melakukan aktivitas seks aktif dan berganti-ganti pasangan, lakukan secara aman dengan menggunakan kondom sebagai tindakan pencegah. Demikian, pesan yang disampaikan oleh dr. Elly.</p>
<p>Tulisan ini merupakan hasil diskusi dengan dr. Putu Elly Supriathini. Dimuat di <a href="http://jangkang.org/archives/interview/2009/03/kunci-utama-memutus-mata-rantai-penyakit-menular-seks">Jangkang Research Institute</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.ceis-swcu.asia/pskti-arsip/articles/bali/2009/07/kunci-utama-memutus-mata-rantai-penyakit-menular-seks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gejolak Ekonomi Global dan Implikasinya bagi Kebijakan Ekonomi Makro di Indonesia</title>
		<link>http://id.ceis-swcu.asia/pskti-arsip/articles/bali/2009/07/gejolak-ekonomi-global-dan-implikasinya-bagi-kebijakan-ekonomi-makro-di-indonesia/</link>
		<comments>http://id.ceis-swcu.asia/pskti-arsip/articles/bali/2009/07/gejolak-ekonomi-global-dan-implikasinya-bagi-kebijakan-ekonomi-makro-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 15:53:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.ceis-swcu.asia/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://id.ceis-swcu.asia/wp-content/uploads/2009/07/seminar-miranda-s-goeltom.jpg"></a>Oleh SUNNY BOY BATUBARA</p>
<p>Judul di atas merupakan tajuk dari diselenggarakanya seminar oleh Fakultas Ekonomi jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Udayana yang bekerjasama dengan Bank Indonesia, Denpasar-BALI pada tanggal 22 Desember 2008. Adapun pembicara atau narasumber dari seminar ini adalah Prof. Dr.&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://id.ceis-swcu.asia/wp-content/uploads/2009/07/seminar-miranda-s-goeltom.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-281" title="seminar-miranda-s-goeltom" src="http://id.ceis-swcu.asia/wp-content/uploads/2009/07/seminar-miranda-s-goeltom.jpg" alt="seminar-miranda-s-goeltom" width="280" height="210" /></a>Oleh SUNNY BOY BATUBARA</p>
<p>Judul di atas merupakan tajuk dari diselenggarakanya seminar oleh Fakultas Ekonomi jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Udayana yang bekerjasama dengan Bank Indonesia, Denpasar-BALI pada tanggal 22 Desember 2008. Adapun pembicara atau narasumber dari seminar ini adalah Prof. Dr. Miranda S. Goeltoem-Deputi Gubernur Senior BI dan Untoro-Peneliti PPSK BI.</p>
<p>Secara mendasar alasan terjadinya krisis finansial menurut Miranda Goeltoem disebabkan karena:</p>
<ol>
<li> Adanya perilaku spekulatif dari pelaku ekonomi yang melanggar prinsip-prinsip “prudent” serta menyepelekan risiko atau surat berharga yang dijaminkan pada orang yang tidak mempunyai uang.</li>
<li>Uang di negara maju tidak saja dikelola oleh otoritas moneter tetapi oleh swasta sehingga krisis subprime mortage akhirnya terjadi.</li>
</ol>
<p>Namun pada pihak lain, Untoro menganalisis bahwa krisis finansial yang terjadi (melalui penelitiannya yang berjudul Pengaruh “Kejutan” Dari Berita Makro Ekonomi Terhadap Pergerakan Nilai Tukar Rupiah) disebabkan karena terbatasnya data makro ekonomi Amerika yang memengaruhi gejolak nilai tukar rupiah sehingga yang terjadi pelaku pasar sudah melakukan antisipasi terhadap besarnya data makro ekonomi yang diumumkan, dimana waktu pelaksanaan pengumuman data makro ekonomi Amerika mengalami perbedaan waktu dengan waktu beroperasinya pasar valas Jakarta. Selanjutnya Miranda Goeltoem juga menjawab pertanyaan dari salah satu peserta tentang bagaimana dampaknya bagi perekonomian di Indonesia 2009. Dampaknya bagi perekonomian di Indonesia “tidak cukup kuat”, alasan ini didasarkan pada: tingkat CAR (indikator perbankan 2008) di atas 16,9 persen serta Non Performing Loan atau Tingkat Kredit Macet berkisar 3,0 persen dan jika dikomparasikan dengan negara Turki dan Islandia yang sudah meminjam dana ke International Monatary Fund atau IMF ternyata Indonesia tidak melakukan pinjaman. Di sisi lain Bank Indonesia saat ini sedang menghadapi risk aversion -orang lebih senang memegang uang karena mengurangi risiko- hal ini terjadi sebagai akibat dari ketidakpastian perekonomian, imbuhnya lagi.</p>
<p>Pararel dengan hal tersebut, menurut Miranda Goeltom usaha yang dapat dilakukan domain moneter adalah: (1). menjaga Giro Wajib Minimum atau GWM; (2). menjaga tingkat CAR sedangkan domain fiskal saat ini sedang melakukan usaha dalam bentuk: Men-switch program-program padat modal ke padat karya, seperti: Program PNPM dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Miranda Goeltoem juga memberikan Moral Suetition atau himbauan moral bagi bank-bank di Bali juga pelaku usaha untuk bersinergi melakukan restrukturisasi jangan berperilaku default atau tidak memenuhi kewajiban pinjaman kepada bank bagi pelaku usaha, karena jika intensitasnya tinggi maka hal ini akan memberikan dampak ke perekonomian nasional.</p>
<p>Diunduh dari <a href="http://jangkang.org/archives/story/2009/02/gejolak-ekonomi-global-dan-implikasinya-bagi-kebijakan-ekonomi-makro-di-indonesia">Jangkang Research Institute</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.ceis-swcu.asia/pskti-arsip/articles/bali/2009/07/gejolak-ekonomi-global-dan-implikasinya-bagi-kebijakan-ekonomi-makro-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terkurung oleh Budaya</title>
		<link>http://id.ceis-swcu.asia/pskti-arsip/articles/bali/2009/02/cage-by-culture/</link>
		<comments>http://id.ceis-swcu.asia/pskti-arsip/articles/bali/2009/02/cage-by-culture/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 01:13:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.ceis-swcu.asia/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[<p>Oleh <strong>I Putu Tirta Agung</strong></p>
<p>Wacana tentang peranan perempuan serta isu gender tampaknya sedang menjadi pembicaraan yang cukup hangat di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Masalah status dan kedudukan perempuan di masyarakat laksana isu-isu subordinasi, marjinalisasi, dan ketertindasan seperti telah menjadi topik utama&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <strong>I Putu Tirta Agung</strong></p>
<p>Wacana tentang peranan perempuan serta isu gender tampaknya sedang menjadi pembicaraan yang cukup hangat di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Masalah status dan kedudukan perempuan di masyarakat laksana isu-isu subordinasi, marjinalisasi, dan ketertindasan seperti telah menjadi topik utama yang acap dikemukakan pada berbagai kesempatan. Banyak ahli saling memperdebatkan perkembangan ideologi umum tentang gender di Indonesia yang secara implisit seolah-olah merestui diskriminasi, mengunci dunia perempuan pada ranah domestik, sementara mengamini laki-laki menguasai ranah pubik. Budaya patriarkipun terlihat ikut mempertegas dikotomi peran tadi, menyudutkan kaum perempuan pada realita sosial yang lebih pelik. Akibatnya, ia kerap dijadikan sumber segala persoalan pemiskinan yang dihadapi kaum perempuan (Muhadjir, 2005: 166).</p>
<p>Padahal, seyogianya peran perempuan kini tidak hanya terbatas di wilayah domestik saja, melainkan secara mandiri telah pula memberikan kontribusi nyata, turut serta meramaikan persaingan pada sektor publik. Sebab, sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perempuan Indonesia saat ini sangat berpotensi untuk menjadi motor utama penggerak perekonomian keluarga. Tidak melulu bergelut di sektor formal, melalui kegigihan dan keuletan, sekarang prestasi perempuan Indonesia di sektor informalpun, baik itu usaha kecil maupun menengah, adalah satu hal yang patut dibanggakan. Pasalnya menurut sebuah penelitian pada tahun 2006, dari sekitar 40 juta pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia, 60% diantaranya digerakkan oleh perempuan (Tim Ekpos, Maret 2008). Cuma sayang, lagi-lagi lantaran kuatnya budaya patriarki di Indonesia sering kali menegasikan kenyataan tadi, memandang segala capaian perempuan-perempuan Indonesia tidak lebih dari pencari nafkah tambahan.</p>
<p>Layaknya wilayah lain di Indonesia, Bali dengan kekentalan budaya patriarkinya juga memendam cerita tersendiri mengenai peran perempuan. Berdasarkan data statistik tahun 2006, secara keseluruhan diperkirakan jumlah penduduk Bali sebanyak 3.442.600 jiwa, terdiri dari 1.724.300 penduduk laki-laki dan 1.698.300 penduduk perempuan (Pemerintah Provinsi Bali, 2006). Hal ini menunjukkan kalau 49.62% dari total penduduk atau hampir setengah dari penduduk Bali adalah perempuan. Artinya disini, seharusnya perempuan bali menyimpan potensi yang cukup besar guna menunjang pembangunan daerah. Namun apa daya karena kenyataan berbicara lain, alih-alih menjadi potensi perempuan Bali malah cenderung terpinggirkan.</p>
<p>Bila pada paragraf sebelumnya dapat kita ketahui bahwa sekitar 60% dari hampir 40 juta pengusaha UMKM adalah perempuan, maka jika melihat realita yang berkembang mungkin kontribusi perempuan bali dalam menyokong angka tersebut dapat dikatakan sangat kecil. Bagaimana tidak, angka buta huruf penduduk perempuan di Bali pada tahun 2005 berada pada kisaran 5,47%, amat jauh jika dibandingkan penduduk laki-laki yang hanya 1,62%. Perbandingan penduduk yang tamat sarjana (S1) di Bali antara laki-laki dan perempuan juga tidak kalah mengejutkan, 6,7% : 4,9%. Demikian halnya dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), cuma 66,8% perempuan Bali yang dapat dikatakan produktif dan berpenghasilan, sedangkan sisanya rentan terhadap kemiskinan (BPS, 2006; 65).</p>
<p>Memang, masyarakat Bali yang senyatanya masih kuat terselimuti oleh budaya patriarki, senantiasa menempatkan posisi perempuan dibawah laki-laki. Umumnya buat masyarakat Bali, kemuliaan keluarga akan tercapai hanya lewat seorang atau beberapa orang putra. Demikianlah tuntutan budaya “purusa”, laki-laki adalah penjaga kesinambungan sebuah trah yang secara moral dibebankan upacara “Pitra Yadnya” (upacara kurban suci yang ditujukan untuk orang tua dan leluhur). Memakai kalimat lain, orang Bali percaya hanya seorang anak laki-laki yang dapat menyelamatkan kedua orang tuanya dari kekejaman neraka. Sementara bagi perempuan Bali, sejak masih remaja, mereka dikondisikan dan diakomodasikan dalam konsep “yadnya sesa” (segala upacara persembahan) secara terus menerus, tanpa batasan yang jelas antara adat dan agama. Ideologi semacam ini sudah pasti berimplikasi buruk buat peran sosial perempuan di Bali.</p>
<p>Situasi di atas tentunya didukung oleh beberapa terminologi sosial yang justru mempertegas status subordiansi perempuan bali di bawah kaum laki-laki. Misalkan saja, istilah “pengayah” (pelayan) yang biasa diberikan oleh pihak sang suami kepada perempuan yang akan atau sudah menikah. Ada juga istilah “tetekan” (pendatang tanpa sumber daya), yang lazimnya diberikan kepada perempuan yang tinggal di rumah milik keluarga sang suami.  Kemudian, realita pernikahan antar kasta kerap pula memperkeruh suasana, karena dampaknya sangat merugikan kaum perempuan. Bahkan, saking kuatnya pengukuhan peran sosial perempuan Bali, mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dunia perempuan di Bali senantiasa dikurung oleh beragam konsep “purusa”, yang pada akhirnya memaksa mereka menjadi sosok-sosok tanpa daya dan tanpa martabat.</p>
<p>Diunduh dari: <a href="http://jangkang.org/archives/opinion/2009/02/cage-by-culture">Jangkang Research Institute,</a> Bali</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ol>
<li>Muhadjir, 2005, <em>Negara dan Perempuan</em>, CV. Adipura, Yogyakarta.</li>
<li>Tim Ekspor, Maret 2008, <em>CSR untuk Pemberdayaan Pempuan UKM</em>, EKSPOR Edisi 39, Tahun VII, <a href="http://www.bexi.co.id/images/_res/AnalisaPeristiwa-39-CSR%20Untuk%20Pemberdayaan%20Perempuan%20UKM.pdf">http://www.bexi.co.id/images/_res/AnalisaPeristiwa-39-CSR%20Untuk%20Pemberdayaan%20Perempuan%20UKM.pdf</a>, 23/11/2008.</li>
<li>Pemerintah Provinsi Bali, 2006, <em>Profil Daerah Bali</em>, <a href="http://www.baliprov.go.id/informasi/profil/">http://www.baliprov.go.id/informasi/profil/</a>, 19/11/2008.</li>
<li>BPS, 2006, Pendataan Rumah Tangga Miskin Di Provinsi Bali.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.ceis-swcu.asia/pskti-arsip/articles/bali/2009/02/cage-by-culture/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

