Choose your language:
Indonesian flagEnglish flag
Beranda » Berita PSKTI

SEMINAR & WORKSHOP AUSTRALIAN-INDONESIAN BIOSECURITY COMMUNITY MANAGEMENT & PEMERINTAH PROVINSI MALUKU

Published on 28 July 2010
Dipublikasikan di Berita PSKTI || 152 pembaca ||

Read the English Version >>>

Sail Banda

Pendahuluan

Kawasan Timur Indonesia menghadapi banyak tantangan pembangunan yang sangat kompleks, khususnya yang berkaitan dengan kemiskinan dan ketahanan pangan. Masalah ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan masalah kecukupan pangan tetapi juga persoalan mutu pangan. Mutu pangan berhubungan dengan pengolahan pangan oleh konsumen-akhir, yang mana dimulainya sejak tanaman pangan masih diusahakan oleh para petani. Inilah signifikansi dari konsep ketahanan hayati atau biosecurity, sebab biosecurity berkaitan dengan ketahanan pangan dan mutu kehidupan masyarakat di Kawasan Timur Indonesia.

Pertanyaan utamanya lebih lanjut adalah bagaimanakah kita menghadapi tantangan tersebut, dengan mempertimbangkan keragaman budaya, dan keterpencilan wilayah serta penyebaran penduduk di daerah yang luas ini?

Salah satu faktor yang menyebabkan kemacetan dalam menangani dan menyelaraskan program-program yang terkait dengan biosecurity di Kawasan Timur Indonesia adalah masalah sharing informasi antara pemerintah, akademisi, LSM, donor, dan masyarakat, khususnya informasi tentang keberhasilan dan kegagalan dari program yang dilaksanakan. Keterbatasan akses terhadap fasilitas komunikasi juga dapat menghambat pembangunan, khususnya akibat kesulitan memperoleh informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan.

Provinsi Maluku, sebagai satu provinsi kepulauan memiliki keunikannya tersendiri. Tantangan yang dihadapi oleh Provinsi Maluku menjadi lebih berlipat akibat faktor-faktor geografis. Pemerintah Provinsi Maluku telah berusaha menjawab tantangan tersebut melalui manajemen kewilayahan dengan pendekatan Gugus Pulau, Kawasan Laut Pulau, dan Pintu Jamak dengan pusat-pusat pertumbuhan yang berfungsi sebagai pusat pelayanan publik, pusat perdagangan, serta lalu lintas arus barang dan jasa (Ralahalu, 2010). Pemerintah Provinsi Maluku juga telah menetapkan 12 Gugus Pulau sebagai kluster-kluster pelayanan publik. Ke-12 Gugus Pulau tersebut perlu dioptimalkan keberadaannya.

Hal ini perlu dioptimalkan melalui peran sumberdaya manusia untuk mengelola potensi lokal tersebut. Pada sisi inilah pelibatan peneliti dan hasil penelitiannya sangat diperlukan dalam perumusan kebijakan pembangunan. Dalam kaitan dengan biosecurity, maka diperlukan optimalisasi dan peningkatan efektifitas program biosecurity.

Sebagai usaha membangun gagasan terhadap situasi di atas, maka seminar dan workshop ini diadakan di Ambon. Dengan tujuan utama untuk membahas pengembangan arah strategi terkait biosecurity. Seminar ini sekaligus berfungsi sebagai kendaraan bagi pertemuan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan masalah biosecurity di Maluku.

Pelaksanaan seminar dan workshop ini bertepatan dengan event Sail Banda, dalam rangka mendukung aspek studi biosecurity di wilayah kepulauan.

Hasil yang Diharapkan

  1. Pengembangan elemen strategi biosecurity untuk Maluku.
  2. Konsolidasi informasi terkait dengan kajian umum biosecurity di Maluku.
  3. Pengetahuan yang terbagikan mengenai masalah dan kebijakan biosecurity Maluku sebagai provinsi kepulauan.
  4. Terbangunnya jejaring pemangku kepentingan biosecurity.

Tempat Kegiatan

Ruang Sidang Hotel Amans, Ambon, Maluku.

Pelaksana

  1. Pemerintah Provinsi Maluku, Republik Indonesia.
  2. Australian-Indonesian Biosecurity Community Management Project (Ausindo-Biocom).
  3. Australian Cooperative Research Centre for National Plant Biosecurity (CRCNPB).
  4. Charles Darwin University, Darwin, Australia.
  5. Universitas Mahasaraswati (UNMAS)
  6. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)
  7. Universitas Nusa Cendana (UNDANA)
  8. Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI)
  9. Pacific Institute for Sustainable Development (PI)
  10. Universitas Pattimura (UNPATTI)

Topik Materi Seminar

Sesi 1: Pembukaan

Topik Utama: “Tantangan Pembangunan di Maluku sebagai Provinsi Kepulauan”

Sub-topik:

  1. Kondisi Maluku sebagai provinsi kepulauan
  2. Kebijakan pembangunan di wilayah kepulauan

Pembicara: Gubernur Provinsi Maluku, Republik Indonesia

Sesi 2: Diskusi Panel

topik Utama 1: “Biosecurity: Tantangan Bersama bagi Indonesia dan Australia”

Sub-topik:

  1. Tantangan-tantangan utama pembangunan dalam hubungan Indonesia dan Australia
  2. Strategi yang dibutuhkan untuk membangun kerjasama sinergis menjawab masalah pembangunan Indonesia dan Australia

Pembicara:

  1. Prof. Dr. Ian Falk (Charles Darwin University, Darwin, Australia).
  2. Prof. Dr. H. B. Tetelepta, M.Pd. (Rector, Universitas Pattimura).
  3. Prof. Dr. Tonny Pariela (Universitas Pattimura, Ambon).

Topik Utama 2: “Tinjauan tentang Masalah dan Kebijakan terkait Biosecurity di Maluku”

Sub-topik:

  1. Masalah biosecurity di Maluku
  2. Tantangan dan hambatan dalam menangani masalah biosecurity di Maluku
  3. Kebutuhan strategis yang dibutuhkan bagi program biosecurity di Maluku

Pembicara: Perwakilan dari tiga Kabupaten

Respon para peneliti:

  1. Prof. Dr. Kaler Surata.
  2. Dr. Marthen Ndoen.
  3. Ir. I Wayan Mudita, M.Sc.
  4. Theofransus Litaay, SH, LLM.

Topik Workshop

  1. Apakah model strategi kerjasama internasional (khususnya dengan negara tetangga: Australia) yang dibutuhkan bagi pengembangan riset bagi kebijakan biosecurity di Maluku?
  2. Bagaimanakah strategi peran pemerintah yang dibutuhkan dalam pengembangan riset bagi kebijakan biosecurity untuk Maluku? Jelaskan peran BAPPEDA, peran Dinas Pertanian, dan Unit pendukung teknisnya.
  3. Bagaimanakah strategi konsolidasi informasi biosecurity yang dibutuhkan pemerintah Provinsi Maluku sebagai provinsi kepulauan?
  4. Bagaimanakah peran perguruan tinggi dan masyarakat dalam perumusan kebijakan biosecurity di Maluku sebagai provinsi kepulauan? Jelaskan peran Universitas Pattimura dan perguruan tinggi terkait, serta peran masyarakat khususnya peran masyarakat adat (negeri adat, termasuk Kewang dll).
  5. Bagaimanakah strategi untuk membangun komunikasi di antara para pemangku kepentingan biosecurity di Maluku?

Strategi pelaksanaan workshop:

  1. Peserta akan dibagi dalam lima (5) kelompok untuk mendiskusikan masalah-masalah di atas dan merumuskannya.
  2. Hasil diskusi kelompok dipresentasikan di pleno workshop.
  3. Selanjutnya hasil diskusi kelompok akan dirumuskan oleh tim perumus menjadi hasil workshop.
  4. Hasil workshop selanjutnya akan diserahkan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, BAPPEDA, Dinas Pertanian, Universitas Pattimura, dan AusindoBiocom.

Komentar Terbaru