Choose your language:
Indonesian flagEnglish flag
Beranda » Berita PSKTI

Hasil Seminar CDU tentang “Public Health Mapping in Eastern Indonesia”

Published on 20 May 2009
Dipublikasikan di Berita PSKTI || 154 pembaca ||

Share Dharma Palekahelu tentang hasil Seminar CDU mengenai “Public Health Mapping in Eastern Indonesia“.

Darwin, 20 Mei 2009.

Seminar ini sebenarnya terkait dengan apa yang sedang CDU kerjakan dengan Pemda NTT, yakni peningkatan kapasitas staf pemda dalam bidang pemetaan kesehatan. Tahun lalu CDU sudah melakukan pelatihan GIS bagi staf Dinas Kesehatan dan BAPPEDA di Kupang. Staf tersebut juga dibekali dengan berbagai peralatan untuk mulai melakukan pengambilan data di lapangan. Ada tiga wilayah pilot, yakni TTS, Ngada dan Ngada Keo.

Seminggu sebelum seminar, 6 orang tenaga dari ketiga kabupaten mengikuti pelatihan GIS lagi di Darwin. Kalau pada pelatihan di Kupang lebih berkaitan dengan pengenalan software dan mengajarkan bagaimana data di input ke software, pada pelatihan kedua di Darwin lebih berkaitan dengan analisis data yang ada. Hasil pelatihan ini sekaligus menjadi materi presentasi mereka pada Seminar di CDU.

Seminar ini bertujuan untuk mengangkat isu kesehatan masyarakat di Indonesia Timur (khususnya di NTT) dan sekaligus memaparkan bagaimana peran GIS dalam membantu memahami dan menganalisis secara lebih baik persoalan kesehatan masyarakat tersebut. Untuk itu, peserta yang diundang adalah Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten, serta wakil dari Bappeda. Semuanya dari NTT. Di samping itu, seminar juga
diikuti oleh beberapa pegawai dinas kesehatan di NT, dosen dan mahasiswa Ph.D. kesehatan masyarakat serta GIS di CDU. Materi yang dipaparkan tidak saja berkaitan dengan permasalahan kesehatan di NTT, tetapi juga permasalahan kesehatan masyarakat di Australia, terutama di daerah-daerah remote di Australia Utara.

Ada beberapa hal menarik yang dapat saya catat:

  1. Permasalahan kesehatan masyarakat yang paling menonjol adalah permasalahan kematian ibu yang melahirkan. Data tahun 2004, angka kematian secara nasional sebesar 308 orang per 100.000 ibu yang
    melahirkan. Sedangkan NTT mencapai 554 orang. Tahun 2007, angka tersebut cenderung menurun, yakni 228 untuk Nasional dan 306 orang untuk NTT.
  2. Penyebab kematian ibu yang melahirkan baik di NTT maupun Australia Utara sama, yakni presentasi terbesar berkaitan dengan pendarahan dan kedua infeksi. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan dalam seminar ini adalah intervensi medis untuk menekan penyebab masalah tersebut. Intervensi ini berkaitan dengan peningkatan ketrampilan tenaga medis, peningkatan peralatan, serta manajemen yang mendukungnya (distribusi tenaga, peralatan, dll).
  3. Salah satu masalah penghambat yang dialami pada masyarakat di Afrika (salah satu pembicara merujuk ke hasil pengalaman lapangannya di sana) adalah penerimaan masyarakat terhadap model intervensi medis yang dilakukan oleh pemerintah. Dikatakan, perempuan di tempat dimana dia pernah bekerja, tidak pernah mau melakukan persalinan di rumah sakit oleh karena cara melahirkan yang digunakan (ibu terlentang) berbeda dengan kepercayaan mereka (ibu dalam posisi berdiri).
  4. Dari point ketiga kemudian topik diskusi berkembang pada perlunya rumah sakit atau puskesmas mengakomodasi nilai-nilai masyarakat kedalam model dan cara pelayanan mereka.
  5. Merujuk pada permasalahan keterbatasan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang memenuhi standar (minimal pada level puskesmas), strategi yang dilakukan oleh pemerintah Australia Utara
    adalah “mengijinkan” tindakan medis tertentu yang selama ini dilakukan oleh dokter, untuk dilakukan oleh bidan, setelah diberi pelatihan tambahan. Menurut kepala dinas Kesehatan NTT, hal ini sangat sulit dilkukan di Indonesia, jika undang-undang yang ada belum dirubah.
  6. Permasalahan kesehatan lain yang menonjol di NTT adalah masalah gizi buruk dan malaria. Dari paparan pemda, penyebab masalah ini sudah diketahui secara jelas. Waktu munculnya penyakit ini juga sudah diketahui secara jelas. Persoalan sebenarnya adalah pada kemampuan finansial pemda yang sangat terbatas dan kesadaran masyarakat, terutama berkaitan dengan penanganan penyakit malaria. Walaupun disadari, kesadaran ini berjalan pararel dengan tingkat pendidikan masyarakat serta kemampuan ekonomi masyarakat.
  7. Dari pengalaman yang dilakukan oleh teman-teman Pemda di ketiga kabupaten, GIS ternyata sangat membantu mereka untuk secara cepat memahami permasalahan kesehatan yang dihadapi masyarakat, serta mempermudah untuk menganalisis masalah dan alternatif penanganannya. Misalnya: dari peta distribusi penyakit, mereka bisa kaitkan wilayah konsentrasi penderita dengan kondisi lingkungan, topografi, ketersediaan air, budaya, dan berbagai hal yang terkait dengan pemicu penyakit tersebut. Selanjutnya peta distribusi tersebut dioverlay lagi dengan peta jalan untuk memperhitungkan waktu akses masyarakat ke pusat-pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Dimensi jarak yang dikombinasikan dengan dimensi waktu tempuh, serta sarana yang digunakan (mobil, motor, dipanggul orang atau jalan kaki) kemudian membantu mereka untuk menyusun manajemen pelayanan kesehatan per wilayah.
  8. Secara teknis, apa yang sudah ditunjukkan oleh staf pemda dalam seminar sangat baik. Yang masih menjadi kendala adalah ketersediaan data yang valid sehingga bisa mendukung pengambilan keputusan yang valid juga.

Komentar Terbaru