Choose your language:
Indonesian flagEnglish flag
Beranda » Berita PSKTI

Perlu, Sejarah Lokal dari Kawasan Timur Indonesia

Published on 9 August 2008
Dipublikasikan di Berita PSKTI || 132 pembaca ||

PSKTI di kompas.com Sabtu, 9 Agustus 2008 | 01:53 WIB

Salatiga, Kompas – Sejarah Indonesia sebelum kemerdekaan terbentuk sesuai dengan cara pandang bangsa Eropa dan mulai berubah menjadi Jawa sentris pascakemerdekaan. Kondisi ini menyebabkan sejarah maupun kearifan lokal dari wilayah lain di Indonesia, terutama di daerah timur, tidak mendapat tempat.

Hal itu mengemuka dalam seminar ”Sejarah untuk Masyarakat Tanpa Sejarah, Kasus Indonesia Timur” yang diselenggarakan di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (8/8). Tampil sebagai pembicara utama adalah peneliti senior Dr Daniel Dhakidae.

Menurut Daniel, karena penyusunan sejarah Indonesia mendasarkan pada cara pandang Eropa, kedatangan bangsa Eropa dan kebudayaan yang dibawanya menjadi puncak perkembangan sejarah. Hal serupa juga berlangsung setelah Indonesia merdeka, sejarah menjadi sangat Jawa sentris.

”Diponegoro menjadi pahlawan nasional demi kemerdekaan Indonesia. Apa hubungan Diponegoro dan Perang Jawa tahun 1880-1885 dengan Indonesia timur,” kata Daniel.

Daniel juga mempertanyakan apakah benar ada sejarah nasional karena beberapa fakta mengantar pada hubungan yang riskan antara sejarah lokal dan nasional. Konteks penjajahan di Indonesia timur, seperti Nusa Tenggara Timur, sangat berbeda dengan wilayah lainnya. Sebagian besar NTT baru sekitar tahun 1918 masuk dalam administrasi kolonial Belanda.

Ketua Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia UKSW Salatiga Dr Marthen Ndoen mengatakan, peluang untuk menciptakan sejarah lokal di Indonesia timur terbuka lebar setelah reformasi. Meski sejarah oral yang berkembang di kawasan timur Indonesia memiliki sejumlah kelemahan dibanding sejarah tertulis, hal ini masih memungkinkan digali.

Daniel menyatakan, penulisan sejarah lokal bagi kawasan timur Indonesia dapat menjadi sarana bagi mereka untuk mengenali sejarah lokal terlebih dahulu, kemudian diperkenalkan pada sejarah nasional. Selama ini di sejumlah sekolah di wilayah timur Indonesia sudah ada upaya memasukkan sejarah lokal melalui muatan lokal, tetapi belum digarap serius. (GAL)

Komentar Terbaru