Choose your language:
Indonesian flagEnglish flag
Beranda » Artikel Nusa Tenggara

Meningkatkan Kapasitas Masyarakat Lokal Dalam Pengurangan Resiko Bencana (Sebuah Catatan Pengalaman Lapangan)

Published on 3 May 2010
Dipublikasikan di Artikel Nusa Tenggara || 5 Komentar || 914 pembaca ||

Oleh : Julius Nakmofa*

Ketika Bapak berjalan di desa – desa di NTT ini, pernahkah menemukan ada desa yang masyarakatnya kaya semua? Atau menemukan masyarakat yang miskin semua? Pernahkah Bapak menemukan di suatu desa, masyarakatnya jahat semua, atau baik semua? Tentu tidak. Dalam suatu masyarakat pasti ada orang yang jahat dan juga ada orang yang baik. Ada masyarakat yang kaya dan juga ada yang miskin. Baik dan jahat , miskin dan kaya berkumpul maka jadilah sebuah kampung/Desa. Ini berarti bahwa dalam masyarakat itu sendiri ada sesuatu yang dimiliki (kemampuan) dan tidak dimiliki orang lain, sebaliknya ada sesuatu yang tidak dimiliki, tetapi dimiliki orang lain “.
(Ferdy Namah, Desa Naob, Kecamatan Noemuti Timur, Kabupaten TTU)

Pengantar

Pertanyaan retorik sekaligus pernyataan di atas muncul dalam sebuah diskusi dengan masyarakat desa dampingan Perkumpulan Masyarakat Penganan Bencana (PMPB) Kupang. Pertanyaan ini , awalnya sulit ditangkap , apa makna yang terkandung di balik pernyataan tersebut. Tetapi setelah diberi penjelasan, tertangkap makna yang sangat mendalam. Pernyataan tersebut mau menyampaikan bahwa sebenarnya masyarakat memiliki potensi yang dapat di kembangkan, masyarakat memiliki kemampuan yang dapat dibagikan kepada orang lain. Ungkapan ini mau menegaskan kepada “orang luar” agar melihat lebih jauh tentang keberadaan sebuah kelompok masyarakat ketika akan melakukan suatu kegiatan di wilayah tersebut.

Hal ini berarti masyarakat merindukan sebuah kehidupan yang berkelanjutan, tanpa menghilangkan kearifan lokal yang hidup di tengah – tengah mereka. Dengan demikian, pengelolaan sumber-sumber penghidupan merupakan tugas setiap “kita” yang bekerja bersama masyarakat pedesaan dalam mengelola sumber penghidupan mereka menuju kehidupan yang lebih baik.

Tulisan ini merupakan pokok – pokok pikiran dari sedikit pengalaman lapangan yang disampaikan sebagai bahan diskusi, terutama bagi kita yang peduli pada studi-studi Pengurangan Resiko Bencana.

Kapasitas Masyarakat Lokal dalam Penanggulangan Resiko Bencana

Kapasitas adalah sumberdaya atau kemampuan yang secara alami ada dalam diri, keluarga, masyarakat sebagai upaya kesiapan, pencegahan dan pengurangan resiko bencana. Kapasitas selalu berkaitan erat dengan sumber penghidupan yang dimiliki. Sumber daya manusia, sumber daya alam, ekonomi, sosial, dan material. Dalam perspektif pengurangan risiko bencana, aspek kapasitas menjadi sesuatu yang penting yang dapat membantu masyarakat di wilayah-wilayah rentan terhadap bencana dapat bertahan atau beradaptasi.

Dari pengalaman pendampingan masyarakat, sebenarnya konsep penanggulangan resiko bencana telah ada dan dipraktekkan oleh masyarakat sendiri sesuai kondisi ancaman yang dihadapi. Ancaman berulang mengajarkan masyarakat untuk selalu waspada akan kemungkinan datang kembali ancaman tersebut, dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.

Dengan ancaman yang berulang, membuat masyarakat memiliki kapasitas untuk meramalkan kondisi yang akan terjadi tahun depan atau melakukan upaya adaptasi terhadap kondisi yang dialami, sebagai berikut :

  • Upaya untuk saling mengingatkan tercermin lewat syair – syair pantun yang dilantunkan. Salah satu pantun berbunyi, “ Kaloan sia sae, anin la sae, anin sae kaloan lori los onan. udan tau nalo mota merak tun mai, tun mai nasusar hutun no renu” artinya : Ketika mulai mendung, angin pun mulai berhembus. Ketika hujan mulai turun, banjir pun pasti datang dan menyengsarakan masyarakat.
  • Perlindungan terhadap ketahanan pangan keluarga dilakukan dengan menanam berbagai jenis tanaman pangan di kebun. Kegiatan ini merupakan pilihan masyarakat sebagai bagian dari upaya antisipasi dan kesiapan terhadap ancaman banjir dan kekeringan yang bisa menimbulkan gagal panen/rawan pangan.
  • Masyarakat Timor Barat mempercayai kelompok bintang dapat memberikan petunjuk terkait musim yang akan terjadi tahun depan. Kelompok bintang tersebut dikenal dengan nama Nao Pena (bintang Jagung), Nao Ane (bintang padi) dan Nao Sain ( jewawut/botok. Tanaman ini tidak dikembangkan lagi). Apabila kelompok bintang tersebut sinarnya suram maka pertanda akan terjadi kelaparan. Sebaliknya apabila sinar bintang tersebut terlihat terang, pertanda tahun depan hasil panen akan melimpah. Kelompok bintang, juga menjadi petunjuk bagi masyarakat untuk memilah jenis tanaman yang akan di tanam pada tahun depan. Misalnya Nao Pela (bintang jagung), bila cahayanya terang , maka tahun depan masyarakat akan memprioritaskan menanam jagung lebih banyak, sedangkan padi dan tanaman lain sebagai selingan.
  • Pohon asam dan pohon mangga, dipercayai oleh masyarakat untuk memberikan petunjuk melalui buahnya. Bila mangga atau asam berbuah lebat, pertanda akan terjadi kekurangan bahan makanan. Dan sebaliknya, bila mangga dan asam berbuah sedikit, pertanda hasil panen akan memuaskan
  • Masyarakat memelihara pohon cemara, jambu air, bambu hutan, pandan sebagai tanaman penahan longsor, di daerah aliran sungai karena memiliki akar yang kokoh.
  • Untuk mengurangi kekuatan arus air dan lumpur, masyarakat memelihara tanaman onu dan fafoek (sejenis rumput yang juga di gunakan sebagai makanan ternak) . Tanaman ini mulai hilang sejak pemukiman penduduk mulai di perluas dan pembukaan lahan pertanian
  • Rumah panggung merupakan kapasitas masyarakat di daerah rawan banjir. Jumlah rumah panggung saat ini sangat terbatas, karena sebagian besar masyarakat beralih ke rumah-rumah yang bukan tipe rumah panggung.

Upaya – upaya yang di lakukan oleh masyarakat dalam mengurangi resiko bencana di wilayah mereka mulai mengalami hambatan akibat keterbatasan pengetahuan dan perubahan yang terjadi secara cepat. Berdasarkan refleksi pengalaman PMPB Kupang selama 11 tahun bekerja dalam ladang Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat (PRBBM) pada sedikitnya 40 desa di NTT, maka dapat diringkaskan beberapa langkah kunci untuk melakukan upaya-upaya pengurangan risiko berbasis penghidupan masyarakat. Kami menamakan kiat-kiat tersebut sebagai 8 Langkah PMPB dalam melindungi sumber penghidupan, yang alurnya sebagai berikut:

Meningkatkan Kapasitas Masyarakat
Melalui berbagai kegiatan pelatihan formal/informal fasilitator masyarakat maupun relawan- relawan desa , PMPB menekankan pada beberapa hal: (a) pengenalan konsep dasar pengurangan resiko bencana, (b) pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat, (c) pelatihan pengenalan standar minimun dalam situasi darurat, (d) pelatihan pertolongan pertama gawat darurat, (e) gender dan bencana (f) penyusunan rencana kontijensi kedaruratan dan standar operasional dan (g) teknis manajemen darurat dan berbagai materi dasar yang dianggap relevan.

Analisa Resiko Bersama Masyarakat Pemetaan Desa
Untuk memahami apakah secara historis pernah pernah terjadi bencana sebelumnya di wilayah tersebut maka perlu dibuka ingatan sejarah bencana di daerah tersebut. Juga untuk memahami kemungkinan hilangnya aset-aset penghidupan yang dimiliki masyarakat yang berisiko hilang karena potensi bencana yang akan datang. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memahami berbagai berbagai kerentanan yang ada sekarang (maupun sedang diproduksi atau sedang berinkubasi di wilayah tersebut) yang turut berkontribusi pada potensi resiko yang ada atau mungkin akan muncul diwaktu mendatang. Proses ini dilakukan bersama masyarakat yang dalam pertemuan formal dilakukan oleh fasilitator dan secara informal diidentifikasi dalam proses-proses hidup bersama (live-in ) masyarakat .

Dokumen Analisis Resiko Bencana
Semua hasil pengkajian bersama masyarakat, dikumpulkan dan dijadikan dokumen milik masyarakat yang sangat berguna bagi masyarakat untuk Menyusun Rencana Aksi Pengurangan Resiko Bencana tingkat masyarakat sebagai informasi awal untuk memantau pergerakan (ancaman,Kerentanan,Kapasitas dan Resiko di wilayah tersebut pada waktu mendatang), informasi bagi pihak luar yang akan melakukan kegiatan di wilayah tersebut. Dokumen tersebut dapat dijadikan bahan advokasi yang memiliki legitimasi pengetahuan akar rumput untuk mendorong perubahan di tingkat masyarakat.

Menyusun Rencana Aksi Masyarakat
Rencana disusun bersama sesuai kebutuhan, misalnya rencana kontijensi desa, menyusun standar pertolongan darurat, menyusun sistem peringatan bahaya, menyusun rencana simulasi dan lain sebagainya sesuai hasil dinamika analisis yang partisipatif bersama masyarakat.

Pelaksanaan Rencana Aksi Masyarakat
Sebelum rencana kegiatan di laksanakan, rencana yang sudah dibuat disosialisasikan ke tingkat masyarakat untuk di ketahui dan ditanggapi. Kegiatan dilakukan oleh masyarakat sendiri berdasarkan perencanaan yang telah dibuat, dengan tidak menutup kemungkinan dilakukan perubahan sesuai kebutuhan yang dihadapi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan sendiri oleh masyarakat secara swadaya dengan mekanisme yang di bangun oleh mereka sendiri. Dukungan dana dan hal teknis dapat diusahakan dari pihak luar.

Simulasi Secara Berkala
Simulasi dilakukan terutama di daerah-daerah yang beresiko tinggi. Simulasi dilakukan untuk menguji kembali rencana kontijensi yang telah disusun, mengidentifikasi dan membuat jalur evakuasi yang aman bagi masyarakat ketika akan mengungsi, meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam melakukan pertolongan pertama gawat darurat, mengorganisir masyarakat dalam pengelolaan tempat pengungsian dan menjadikan simulasi sebagai kegiatan rutin/masyarakat tidak lengah akan kondisi mereka

Menyusun Aturan–Aturan Pendukung PRB Desa
Peraturan Desa (Perdes) disusun sebagai payung hukum dalam mendukung kerja PRBBM. Perdes dibuat sebagai dasar untuk memasukkan pengurangan Resiko bencana kedalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

Evaluasi Secara Berkala untuk melihat kemajuan yang telah di capai
Pembuatan panduan monitoring dan evaluasi yang disepakati bersama untuk mengukur dampak program yang sudah dilakukan dan menjadikan musyawarah pembangunan desa setiap tahun sebagai wadah evaluasi dan perencanaan Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat

Kesimpulan

Dari pengalaman – pengalaman yang di sampaikan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal pokok:

  1. Bencana , apapun jenisnya selalu ada faktor manusia sebagai sumber kerentanan yang memperparah dampak yang ditimbulkan
  2. Penguatan kapasitas masyarakat dalam pengurangan resiko bencana adalah bagian dari upaya mendukung penghidupan masyarakat di wilayah rawan bencana
  3. Kapasitas lokal yang di miliki masyarakat dalam pengurangan Resiko bencana telah mengalami kemunduran akibat cepatnya perubahan yang terjadi baik secala lokal maupun global
  4. Kolaborasi antara pengetahuan lokal dan pengetahuan teknis dapat membantu terlaksana pengurangan resiko bencana yang efektif.
  5. Pelaksanaan Pengurangan Resiko Bencana Menjadi tanggung jawab semua pihak , sesuai dengan kapasitas yang di miliki

Penutup

Demikian pokok – pokok pikiran yang dapat kami sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, semoga dapat bermanfaat.

Julius Nakmofa, bekerja pada Perkumpulan Masyarakat Penanganan bencana (PMPB) Nusa Tenggara Timur. Materi ini disampaikan dalam rangka peresmian Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Berita terkait dimuat di website Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dengan judul berita Peresmian Pusat Studi Bencana UKSW.

5 pengunjung mengomentari "Meningkatkan Kapasitas Masyarakat Lokal Dalam Pengurangan Resiko Bencana (Sebuah Catatan Pengalaman Lapangan)"

  1. Syarifah menulis

    on February 24th, 2011 at 12:24 pm
    Using Safari Safari 534.13 on Mac OS Mac OS X
    • Neny Isharyanti menulis

      on March 17th, 2011 at 9:24 am
      Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 4.0 on Windows Windows XP

      Bu Syarifah,

      Tulisan di kompasiana itu baru dipublikasi tanggal 17 Februari 2011, sedangkan tulisan ini dimuat tanggal 3 Mei 2010. Hampir satu tahun jaraknya! Jadi bisa ketahuan dong siapa yang mengutip siapa. Sudah begitu kutipannya 80% sama dan tanpa menyebut sumber.

      Kalau saya malu total melakukannya. Apalagi penulis di kompasiana mengaku sebagai akademisi dari sebuah universitas ternama. Aduh, ini kejahatan intelektual namanya.

  2. on March 17th, 2011 at 1:13 pm
    Using WordPress WordPress 2.8.4

    [...] bahwa salah satu artikel di website Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia (PSKTI) yang berjudul Meningkatkan Kapasitas Masyarakat Lokal Dalam Pengurangan Resiko Bencana (Sebuah Catatan Pengalaman … yang ditulis oleh Julius Nakmofa mirip dengan salah satu artikel di website Jurnalisme Warga [...]

  3. wahyuni kristinawati menulis

    on November 22nd, 2011 at 1:54 pm
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.6.24 on Windows Windows XP

    Tulisan yang oke banget.. Solusi yang sifatnya community-based memang akan lebih bertahan lama karena kontekstual. Saya belum jelas apakah langkah-langkah di atas hanya dpt dilakukan utuk jenis bncana tertentu (dan bencana apa) dan sejauh mana replikasi ke lokasi-lokasi lain dapat dilakukan.

  4. on July 6th, 2013 at 8:45 am
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 22.0 on Windows Windows NT

    Tulisan yang sangat bagus untuk kita simak

Mari Bergabung dengan Diskusi Kami

Janganlah Ragu untuk Menuliskan Opini Anda di Sini

 Nama Lengkap (*wajib)

 Alamat Email (*wajib)

 Alamat Website (*opsional)

Jika anda menyukai artikel ini, silahkan berlangganan feeds kami

Harap dicatat:
Silahkan dengan bebas untuk menulis segala komentar anda, asalkan seluruh komentar tersebut dapat dipertanggungjawabkan, faktual dan sopan. Setiap komentar akan melalui proses moderasi, sebelum akhirnya ditampilkan pada website kami. Maka dari itu, tidak ada gunanya menerbitkan komentar anda lebih dari satu kali. Anda juga dapat menampilkan foto wajah, gambar favorit, maupun logo pribadi di setiap komentar anda. Untuk itu, silahkan kunjungi Gravatar.com dan ikuti petunjuk yang diberikan oleh situs tersebut.

Komentar Terbaru