Gejolak Ekonomi Global dan Implikasinya bagi Kebijakan Ekonomi Makro di Indonesia
Judul di atas merupakan tajuk dari diselenggarakanya seminar oleh Fakultas Ekonomi jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Udayana yang bekerjasama dengan Bank Indonesia, Denpasar-BALI pada tanggal 22 Desember 2008. Adapun pembicara atau narasumber dari seminar ini adalah Prof. Dr. Miranda S. Goeltoem-Deputi Gubernur Senior BI dan Untoro-Peneliti PPSK BI.
Secara mendasar alasan terjadinya krisis finansial menurut Miranda Goeltoem disebabkan karena:
- Adanya perilaku spekulatif dari pelaku ekonomi yang melanggar prinsip-prinsip “prudent” serta menyepelekan risiko atau surat berharga yang dijaminkan pada orang yang tidak mempunyai uang.
- Uang di negara maju tidak saja dikelola oleh otoritas moneter tetapi oleh swasta sehingga krisis subprime mortage akhirnya terjadi.
Namun pada pihak lain, Untoro menganalisis bahwa krisis finansial yang terjadi (melalui penelitiannya yang berjudul Pengaruh “Kejutan” Dari Berita Makro Ekonomi Terhadap Pergerakan Nilai Tukar Rupiah) disebabkan karena terbatasnya data makro ekonomi Amerika yang memengaruhi gejolak nilai tukar rupiah sehingga yang terjadi pelaku pasar sudah melakukan antisipasi terhadap besarnya data makro ekonomi yang diumumkan, dimana waktu pelaksanaan pengumuman data makro ekonomi Amerika mengalami perbedaan waktu dengan waktu beroperasinya pasar valas Jakarta. Selanjutnya Miranda Goeltoem juga menjawab pertanyaan dari salah satu peserta tentang bagaimana dampaknya bagi perekonomian di Indonesia 2009. Dampaknya bagi perekonomian di Indonesia “tidak cukup kuat”, alasan ini didasarkan pada: tingkat CAR (indikator perbankan 2008) di atas 16,9 persen serta Non Performing Loan atau Tingkat Kredit Macet berkisar 3,0 persen dan jika dikomparasikan dengan negara Turki dan Islandia yang sudah meminjam dana ke International Monatary Fund atau IMF ternyata Indonesia tidak melakukan pinjaman. Di sisi lain Bank Indonesia saat ini sedang menghadapi risk aversion -orang lebih senang memegang uang karena mengurangi risiko- hal ini terjadi sebagai akibat dari ketidakpastian perekonomian, imbuhnya lagi.
Pararel dengan hal tersebut, menurut Miranda Goeltom usaha yang dapat dilakukan domain moneter adalah: (1). menjaga Giro Wajib Minimum atau GWM; (2). menjaga tingkat CAR sedangkan domain fiskal saat ini sedang melakukan usaha dalam bentuk: Men-switch program-program padat modal ke padat karya, seperti: Program PNPM dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Miranda Goeltoem juga memberikan Moral Suetition atau himbauan moral bagi bank-bank di Bali juga pelaku usaha untuk bersinergi melakukan restrukturisasi jangan berperilaku default atau tidak memenuhi kewajiban pinjaman kepada bank bagi pelaku usaha, karena jika intensitasnya tinggi maka hal ini akan memberikan dampak ke perekonomian nasional.
Diunduh dari Jangkang Research Institute














Mari Bergabung dengan Diskusi Kami