Choose your language:
Indonesian flagEnglish flag
Beranda » Artikel Bali

Gejolak Ekonomi Global dan Implikasinya bagi Kebijakan Ekonomi Makro di Indonesia

Published on 3 July 2009
Dipublikasikan di Artikel Bali || Tidak Ada Komentar || 333 pembaca ||

seminar-miranda-s-goeltomOleh SUNNY BOY BATUBARA

Judul di atas merupakan tajuk dari diselenggarakanya seminar oleh Fakultas Ekonomi jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Udayana yang bekerjasama dengan Bank Indonesia, Denpasar-BALI pada tanggal 22 Desember 2008. Adapun pembicara atau narasumber dari seminar ini adalah Prof. Dr. Miranda S. Goeltoem-Deputi Gubernur Senior BI dan Untoro-Peneliti PPSK BI.

Secara mendasar alasan terjadinya krisis finansial menurut Miranda Goeltoem disebabkan karena:

  1. Adanya perilaku spekulatif dari pelaku ekonomi yang melanggar prinsip-prinsip “prudent” serta menyepelekan risiko atau surat berharga yang dijaminkan pada orang yang tidak mempunyai uang.
  2. Uang di negara maju tidak saja dikelola oleh otoritas moneter tetapi oleh swasta sehingga krisis subprime mortage akhirnya terjadi.

Namun pada pihak lain, Untoro menganalisis bahwa krisis finansial yang terjadi (melalui penelitiannya yang berjudul Pengaruh “Kejutan” Dari Berita Makro Ekonomi Terhadap Pergerakan Nilai Tukar Rupiah) disebabkan karena terbatasnya data makro ekonomi Amerika yang memengaruhi gejolak nilai tukar rupiah sehingga yang terjadi pelaku pasar sudah melakukan antisipasi terhadap besarnya data makro ekonomi yang diumumkan, dimana waktu pelaksanaan pengumuman data makro ekonomi Amerika mengalami perbedaan waktu dengan waktu beroperasinya pasar valas Jakarta. Selanjutnya Miranda Goeltoem juga menjawab pertanyaan dari salah satu peserta tentang bagaimana dampaknya bagi perekonomian di Indonesia 2009. Dampaknya bagi perekonomian di Indonesia “tidak cukup kuat”, alasan ini didasarkan pada: tingkat CAR (indikator perbankan 2008) di atas 16,9 persen serta Non Performing Loan atau Tingkat Kredit Macet berkisar 3,0 persen dan jika dikomparasikan dengan negara Turki dan Islandia yang sudah meminjam dana ke International Monatary Fund atau IMF ternyata Indonesia tidak melakukan pinjaman. Di sisi lain Bank Indonesia saat ini sedang menghadapi risk aversion -orang lebih senang memegang uang karena mengurangi risiko- hal ini terjadi sebagai akibat dari ketidakpastian perekonomian, imbuhnya lagi.

Pararel dengan hal tersebut, menurut Miranda Goeltom usaha yang dapat dilakukan domain moneter adalah: (1). menjaga Giro Wajib Minimum atau GWM; (2). menjaga tingkat CAR sedangkan domain fiskal saat ini sedang melakukan usaha dalam bentuk: Men-switch program-program padat modal ke padat karya, seperti: Program PNPM dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Miranda Goeltoem juga memberikan Moral Suetition atau himbauan moral bagi bank-bank di Bali juga pelaku usaha untuk bersinergi melakukan restrukturisasi jangan berperilaku default atau tidak memenuhi kewajiban pinjaman kepada bank bagi pelaku usaha, karena jika intensitasnya tinggi maka hal ini akan memberikan dampak ke perekonomian nasional.

Diunduh dari Jangkang Research Institute

Tidak ada pengunjung mengomentari "Gejolak Ekonomi Global dan Implikasinya bagi Kebijakan Ekonomi Makro di Indonesia"

Mari Bergabung dengan Diskusi Kami

Janganlah Ragu untuk Menuliskan Opini Anda di Sini

 Nama Lengkap (*wajib)

 Alamat Email (*wajib)

 Alamat Website (*opsional)

Jika anda menyukai artikel ini, silahkan berlangganan feeds kami

Harap dicatat:
Silahkan dengan bebas untuk menulis segala komentar anda, asalkan seluruh komentar tersebut dapat dipertanggungjawabkan, faktual dan sopan. Setiap komentar akan melalui proses moderasi, sebelum akhirnya ditampilkan pada website kami. Maka dari itu, tidak ada gunanya menerbitkan komentar anda lebih dari satu kali. Anda juga dapat menampilkan foto wajah, gambar favorit, maupun logo pribadi di setiap komentar anda. Untuk itu, silahkan kunjungi Gravatar.com dan ikuti petunjuk yang diberikan oleh situs tersebut.

Komentar Terbaru